Kalau ngomongin jalan kompleks di Indonesia, yang kebayang biasanya motor lewat, anak-anak main, atau ibu-ibu menjemur pakaian sambil ngobrol. Tapi ada satu “mode” lain yang kadang muncul: jalan kompleks mendadak berubah jadi lintasan balap. Fenomena ini lebih dikenal sebagai balap liar, yaitu adu kecepatan kendaraan di jalan umum tanpa lintasan dan pengamanan resmi. Di sejumlah daerah Indonesia, jalan yang sebenarnya dibuat untuk aktivitas warga pernah dimanfaatkan sebagai tempat kebut-kebutan.
Kenapa jalan biasa bisa terasa seperti “sirkuit”? Ini beberapa hal menariknya:
• Aspal mulus = godaan buat ngebut
Secara sederhana, permukaan jalan yang rata membuat kendaraan lebih mudah mempertahankan kecepatan. Tidak heran kalau jalan yang mulus, lebar, dan minim gangguan sering dianggap menarik oleh pelaku balap liar. Di kawasan CPI Makassar, misalnya, polisi pernah menyebut kondisi jalan yang mulus, luas, dan terang menjadi salah satu alasan kawasan tersebut disukai untuk konvoi atau aksi kebut-kebutan.
• Jalan sepi bikin rasa aman jadi “palsu”
Ketika lalu lintas sedang lengang, pengendara bisa merasa punya ruang lebih luas untuk memacu kendaraan. Masalahnya, jalan umum tetap punya faktor tidak terduga seperti orang menyeberang, kendaraan keluar dari gang, atau pengendara lain yang tiba-tiba muncul.
• Jalan lurus terasa seperti trek drag race
Jalan panjang dan lurus memang secara visual terlihat cocok untuk adu kecepatan. Beberapa lokasi yang pernah digunakan untuk balap liar di berbagai daerah bahkan dipilih karena karakter jalannya yang panjang, lebar, dan relatif sepi. Di Jombang, misalnya, sejumlah ruas jalan pernah diberitakan menjadi lokasi balap liar karena kondisi aspalnya yang mulus.
• Minimnya fasilitas keselamatan jadi masalah besar
Sirkuit resmi punya area run-off, pembatas, pengamanan, hingga pengaturan khusus ketika terjadi kecelakaan. Jalan kompleks jelas tidak didesain dengan fasilitas tersebut. Jadi ketika kendaraan kehilangan kendali, konsekuensinya bisa jauh lebih serius karena ada rumah, kendaraan lain, pejalan kaki, atau warga di sekitar.
• Faktor “seru-seruan” ternyata ikut berperan
Penelitian mengenai balap liar di Indonesia menemukan bahwa dorongan seperti mencari sensasi, pengaruh kelompok pertemanan, hobi modifikasi kendaraan, dan keinginan mendapatkan pengakuan sosial dapat menjadi faktor yang mendorong seseorang terlibat.
Yang bikin fenomena ini menarik adalah bagaimana sebuah ruang yang awalnya punya fungsi sangat biasa bisa berubah fungsi hanya karena perilaku manusia. Jalan kompleks sebenarnya dirancang sebagai ruang bersama, bukan arena untuk menguji performa motor. Bahkan secara hukum, pengemudi kendaraan bermotor dilarang melakukan balapan dengan kendaraan lain di jalan, sebagaimana diatur dalam Pasal 115 UU No. 22 Tahun 2009, dengan ketentuan sanksi pada Pasal 297. Jadi, meskipun dari kejauhan terlihat seperti “sirkuit dadakan”, secara keselamatan jalan tersebut tetap bukan tempat yang dirancang untuk balapan. Fenomena ini juga menjelaskan kenapa jalan yang kelihatan paling biasa—bahkan jalan yang biasanya dipakai warga buat menjemur pakaian—bisa tiba-tiba punya cerita yang jauh lebih “gaspol”.
Pada akhirnya, jalan kompleks tetaplah ruang milik bersama. Kalau mau adu cepat atau menguji kemampuan kendaraan, tempat yang paling masuk akal tetap sirkuit resmi dengan standar keselamatan, bukan jalan tempat tetangga sedang santai atau anak-anak bermain.