Kalau ngomongin cari bibit atlet di Indonesia, pikiran kita biasanya langsung lari ke sepak bola: ada seleksi, turnamen antarsekolah, lalu pemain yang jago direkrut klub. Tapi ternyata ada satu cabang olahraga yang cara mencari bakatnya bisa dibilang cukup unik, yaitu panjat tebing. Di cabang ini, calon atlet nggak cuma dilihat dari seberapa cepat mereka memanjat. Bentuk tubuh, panjang rentang tangan, kekuatan otot, kemampuan melompat, sampai kecepatan lari pun ikut diperiksa. Jadi, seseorang bisa saja belum pernah menjadi atlet panjat tebing, tetapi setelah menjalani serangkaian tes ternyata dianggap punya “modal tubuh” yang cocok untuk olahraga tersebut.
Kenapa cara mencari bibitnya terkesan “aneh”? Ini beberapa tesnya:
• Tinggi badan dan rentang lengan diperiksa
Calon atlet diukur tinggi badan, berat badan, rentang lengan, hingga panjang tungkai. Dalam olahraga panjat, proporsi tubuh tertentu dapat menjadi modal karena atlet harus menjangkau pegangan dan pijakan dengan efisien. Pengukuran seperti ini disebut antropometri, yaitu ilmu yang mempelajari dimensi tubuh manusia dan memang digunakan dalam proses identifikasi bakat olahraga.
• Disuruh pull-up, bukan cuma memanjat
Kekuatan tubuh bagian atas juga dites melalui pull-up. Alasannya simpel: saat memanjat, tangan dan lengan harus mampu menopang serta mengendalikan tubuh berulang kali. Jadi, sebelum benar-benar serius memanjat, kemampuan fisiknya sudah bisa dipetakan lebih dulu.
• Vertical jump ikut menentukan
Calon atlet juga dites melakukan vertical jump untuk melihat power otot tungkai. Kelihatannya memang agak random—kok mau jadi pemanjat malah disuruh lompat? Padahal ledakan tenaga dari kaki bisa membantu atlet melakukan gerakan cepat ketika mencari pijakan berikutnya.
• Bahkan ada tes lari 20 meter
Kecepatan lari 20 meter juga masuk dalam rangkaian tes. Artinya, proses pencarian bakatnya tidak sekadar mencari anak yang sudah bisa memanjat, tetapi mencoba melihat paket kemampuan fisik yang berpotensi dikembangkan menjadi atlet.
Yang lebih menarik, pola seperti ini memang benar-benar dilakukan di Indonesia. Dalam program identifikasi bakat panjat tebing di Kota Bima pada 2024, sebanyak 300 siswa mengikuti serangkaian tes. Dari jumlah tersebut, 36 peserta kemudian masuk tahap tes keterampilan memanjat speed klasik 10 meter, sebelum akhirnya disaring lagi menjadi 10 orang untuk dibina. Jadi, sistemnya benar-benar seperti mencari “hidden talent”: kemampuan dasar dicari dulu, baru keterampilan olahraganya diuji dan dikembangkan. Bahkan pada cabang panahan, Kemenpora juga menerapkan pola serupa. Di Bantul, 300 calon olahragawan usia 8–12 tahun menjalani pengukuran antropometri, biomotor, dan teknik memanah sebelum dipilih 10 peserta terbaik untuk dibina.
Pada akhirnya, dunia olahraga memang nggak selalu mencari atlet dengan cara “siapa yang paling jago sekarang”. Kadang yang dicari justru siapa yang punya potensi untuk menjadi jago di masa depan. Makanya, anak yang awalnya nggak kepikiran jadi atlet bisa saja tiba-tiba ditemukan punya bakat lewat angka-angka dari hasil pengukuran tubuh dan tes fisik.